Wajarkah
jika seorang anak terlalu mengkhawatirkan ayahnya?
Menurutku
wajar-wajar saja.
Tapi
wajarkah jika kekhawatiran sang anak adalah perasaan gelisah, takut, dan sedih
yang menimbulkan perasaan tertekan?
Itu yang
sampai saat ini tengah kurasakan ..
Setiap saat
aku meyakinkan diri bahwa Allah memang telah memberikan aku seorang ayah
terbaik didunia—setidaknya untukku.
Seorang ayah
dengan segala kebaikan hati, kesabaran, ketabahan, kesetiaan, dan memiliki
kasih sayang yang merata pada dua orang putrinya. Seorang ayah yang dengan
pengetahuannya mendidik anak-anaknya. Seorang ayah yang setiap harinya tidak
pernah mengeluh dihadapan anak dan juga istrinya. Seorang ayah yang dengan jiwa
besarnya menerima segala perbedaan diantara anak-anaknya. Seorang ayah yang ...
yang sangat luar biasa.
Maha Besar
Allah yang sudah mengirimkan penenang dalam setiap tutur kata ayah bagiku.
Masih banyak sikap yang harus kubenahi setiap harinya dan perasaan ini yang
membuatku terus menerus untuk selalu mengingatkan diri bahwa aku masih
mempunyai kedua orangtua yang harus kupatuhi dan kudengar nasihatnya.
Tidak mudah
mendapat seorang ayah seperti ayah, kenyataan itu sangat membuatku seakan
terlahir seperti anak yang istimewa didunia ini. Sungguh.
Ayah yang
tengah kupandangi saat ini adalah sosok teladan yang harus kami contoh sebagai
anaknya. Ayah yang lebih mengerti bagaimana perasaanku melihat sifat dan
beberapa hal yang membuat kami nampak sangat mirip. Bahkan terkadang kurasa ibu
masih belum mengerti bagaimana perasaanku dan apa yang kupikirkan. Saat ini,
untuk saat ini saja aku merasa jantungku berhenti berdetak, tenggorokanku
seakan tercekat dan mataku seperti menolak menahan air mata yang sudah ingin
melompat dari sana. Aku ingin menangis menjerit-jerit.
Kau tahu?
ayah itu istimewa. Ia memiliki kelebihan yang jarang ditemukan dalam diri orang
lain. Akupun tidak. Tapi kadang keistimewaan itu yang membuatku cemas dan ...
takut. Perubahan sikap dan emosi yang melebihi batas normal ayah seakan
membeludak keluar seperti sesuatu yang merongrong lambung seseorang dan itu
harus dimuntahkan.
Entah untuk
beberapa saat, ingin sekali aku bersikap seperti anak cengeng yang setiap kali
kesusahan harus diselesaikan dengan tangisan, walaupun aku tahu menangis tidak
akan menyelesaikan semuanya.
Aku menangis
bukan karena diriku, tapi karena ayah. Rasa sakit yang dideritanya sudah
singgah cukup lama sampai kadang aku ingin menukar segalanya untuk kesembuhan
ayah. Apapun itu kalau perlu nyawaku sendiri. Perubahan mental ayah yang selalu
membuatku was-was. Tanda-tanda kecil yang sering terlihat menambah perasaan
yang selalu menghujamku bertubi-tubi seakan terhantam palu yang begitu besar,
seperti terjebak diterowongan yang gelap dan sama sekali tidak terlihat cahaya
untuk jalan keluar. Perasaan itu adalah perasaan khawatir yang menimbulkan rasa
tertekan. Hatiku terasa ngilu dan menciut hingga tidak bisa merasakan apa-apa.
sampai kadang aku merasa ingin mati rasa. Tidak ingin merasakan hal ini.
Tapi
percayalah baik ayah, ibu maupun aku sudah ikhlas dan berbesar hati menghadapi
ini. Bagaimanapun juga kami memang harus menerima segala kekurangan yang ada
dalam keluarga ini.
Jika hal ini
terjadi pada keluarga lain kurasa mereka belum tentu bisa menerima dan bersabar
untuk itu. Walau terkadang perubahan kecil ayah langsung membuat otakku nyaris
kehilangan kendali karena terlalu berpikir jauh. Harus kuakui daya imajinasi
otakku sangat hebat bahkan sebelum aku memutuskan segala sesuatunya, dengan
alamiah otakku mampu memikirkan kemungkinan besar dan kecilnya tentang apa yang
akan kupilih. Maksudku, aku mampu berpikir jauh dan menerawang semuanya
walaupun aku tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak, tapi sungguh aku
tidak mempermasalahkannya lagipula memiliki pikiran yang matang memang harus
ada untuk menjalani hidup ini.
Dan untuk
saat ini, aku melihatnya kembali. Perubahan ayah. Aku berdo’a sebisaku agar
penyakit ayah bisa disembuhkan kalau perlu aku ingin sekali ayah tidak harus
merasakan itu lagi. sungguh.
Itu do’a
yang selalu kupanjatkan dan aku tidak akan pernah berhenti untuk memintanya.
Sudah kubilang, aku akan melalukan apapun untuk itu, kalau memang penyakit itu
harus berpindah padaku aku rela asal jangan pada ayah lagi.
Sebenarnya
ini ujian dari Allah. Aku tahu itu. Tapi bagaimanapun juga aku seseorang yang
perasa dan pemikir. Bagaimanapun aku anaknya.
Aku selalu
ingin tahu apa yang dipikirkan ayah setiap harinya sampai penyakit menyebalkan
itu masih terus menggerogotinya. Mungkinkah jika aku tahu apa yang
dipikirkannya aku akan bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya? Mungkinkah aku
akan punya penyakit yang sama?
Kau tahu?
terkadang emosi ayah yang meninggi membuatku nyaris tidak mengenalnya sebagai
ayahku. Ayah selalu banyak bicara dan ditambah dengan emosi yang menggebu-gebu,
membuatku takut untuk bertatap muka dengannya.
Tapi
sungguh. Jika diberi kesempatan untuk menangis aku akan dengan senang hati
menerimanya. Aku ingin menangis meraung-raung untuk menumpahkan segala ganjalan
hati dan menolak bantahan akal sehatku. Mungkin saat ini hanya Allah yang bisa
mendengar jeritan hatiku, keluhan hatiku. Setengah jiwaku merasa lelah tapi aku
juga harus melihat sisi lain. Ibu. Bukti aku masih bertahan karena ibu. Aku
tidak mungkin membiarkannya menghadapi ini semua sendirian. Aku yakin ibu
selalu membendung tangisnya didepanku, tapi tahukah bu? Ibu tidak perlu
melakukan itu. Menangislah sebisamu karena aku yakin ibu memang butuh menangis.
Ibu wanita terkuat didunia ini. Bahkan ribuan laki-lakipun bisa ibu kalahkan.
Wanita memang makhluk terkuat yang Allah ciptakan bahkan jika laki-laki
merasakan apa yang wanita rasakan mereka pasti sudah mengakhiri hidupnya saat
itu juga. Dan seorang ibu, wanita dengan segala kelembutan hatiya yang Allah
titipkan untuk dijaga perasaannya. Bahkan seorang ibu bisa menjadi wanita
pemberani untuk melindungi segala hal yang memang harus dilindunginya. Seorang
ibu akan mengeluarkan semua keberaniannya bahkan melebihi keberanian seorang
ayah jika memang itu dibutuhkan.
Akankah
suatu saat nanti—aku tidak tahu kapan—ayah bisa sembuh dan menjalani
hari-harinya dengan bahagia bersama kami? Aku sangat mengharapkan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar