Rabu, 13 Agustus 2014

Ayah, Ibu .. Aku Bertahan



Wajarkah jika seorang anak terlalu mengkhawatirkan ayahnya?
Menurutku wajar-wajar saja.
Tapi wajarkah jika kekhawatiran sang anak adalah perasaan gelisah, takut, dan sedih yang menimbulkan perasaan tertekan?
Itu yang sampai saat ini tengah kurasakan ..
Setiap saat aku meyakinkan diri bahwa Allah memang telah memberikan aku seorang ayah terbaik didunia—setidaknya untukku.
Seorang ayah dengan segala kebaikan hati, kesabaran, ketabahan, kesetiaan, dan memiliki kasih sayang yang merata pada dua orang putrinya. Seorang ayah yang dengan pengetahuannya mendidik anak-anaknya. Seorang ayah yang setiap harinya tidak pernah mengeluh dihadapan anak dan juga istrinya. Seorang ayah yang dengan jiwa besarnya menerima segala perbedaan diantara anak-anaknya. Seorang ayah yang ... yang sangat luar biasa.
Maha Besar Allah yang sudah mengirimkan penenang dalam setiap tutur kata ayah bagiku. Masih banyak sikap yang harus kubenahi setiap harinya dan perasaan ini yang membuatku terus menerus untuk selalu mengingatkan diri bahwa aku masih mempunyai kedua orangtua yang harus kupatuhi dan kudengar nasihatnya.
Tidak mudah mendapat seorang ayah seperti ayah, kenyataan itu sangat membuatku seakan terlahir seperti anak yang istimewa didunia ini. Sungguh.
Ayah yang tengah kupandangi saat ini adalah sosok teladan yang harus kami contoh sebagai anaknya. Ayah yang lebih mengerti bagaimana perasaanku melihat sifat dan beberapa hal yang membuat kami nampak sangat mirip. Bahkan terkadang kurasa ibu masih belum mengerti bagaimana perasaanku dan apa yang kupikirkan. Saat ini, untuk saat ini saja aku merasa jantungku berhenti berdetak, tenggorokanku seakan tercekat dan mataku seperti menolak menahan air mata yang sudah ingin melompat dari sana. Aku ingin menangis menjerit-jerit.
Kau tahu? ayah itu istimewa. Ia memiliki kelebihan yang jarang ditemukan dalam diri orang lain. Akupun tidak. Tapi kadang keistimewaan itu yang membuatku cemas dan ... takut. Perubahan sikap dan emosi yang melebihi batas normal ayah seakan membeludak keluar seperti sesuatu yang merongrong lambung seseorang dan itu harus dimuntahkan.
Entah untuk beberapa saat, ingin sekali aku bersikap seperti anak cengeng yang setiap kali kesusahan harus diselesaikan dengan tangisan, walaupun aku tahu menangis tidak akan menyelesaikan semuanya.
Aku menangis bukan karena diriku, tapi karena ayah. Rasa sakit yang dideritanya sudah singgah cukup lama sampai kadang aku ingin menukar segalanya untuk kesembuhan ayah. Apapun itu kalau perlu nyawaku sendiri. Perubahan mental ayah yang selalu membuatku was-was. Tanda-tanda kecil yang sering terlihat menambah perasaan yang selalu menghujamku bertubi-tubi seakan terhantam palu yang begitu besar, seperti terjebak diterowongan yang gelap dan sama sekali tidak terlihat cahaya untuk jalan keluar. Perasaan itu adalah perasaan khawatir yang menimbulkan rasa tertekan. Hatiku terasa ngilu dan menciut hingga tidak bisa merasakan apa-apa. sampai kadang aku merasa ingin mati rasa. Tidak ingin merasakan hal ini.
Tapi percayalah baik ayah, ibu maupun aku sudah ikhlas dan berbesar hati menghadapi ini. Bagaimanapun juga kami memang harus menerima segala kekurangan yang ada dalam keluarga ini.
Jika hal ini terjadi pada keluarga lain kurasa mereka belum tentu bisa menerima dan bersabar untuk itu. Walau terkadang perubahan kecil ayah langsung membuat otakku nyaris kehilangan kendali karena terlalu berpikir jauh. Harus kuakui daya imajinasi otakku sangat hebat bahkan sebelum aku memutuskan segala sesuatunya, dengan alamiah otakku mampu memikirkan kemungkinan besar dan kecilnya tentang apa yang akan kupilih. Maksudku, aku mampu berpikir jauh dan menerawang semuanya walaupun aku tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak, tapi sungguh aku tidak mempermasalahkannya lagipula memiliki pikiran yang matang memang harus ada untuk menjalani hidup ini.
Dan untuk saat ini, aku melihatnya kembali. Perubahan ayah. Aku berdo’a sebisaku agar penyakit ayah bisa disembuhkan kalau perlu aku ingin sekali ayah tidak harus merasakan itu lagi. sungguh.
Itu do’a yang selalu kupanjatkan dan aku tidak akan pernah berhenti untuk memintanya. Sudah kubilang, aku akan melalukan apapun untuk itu, kalau memang penyakit itu harus berpindah padaku aku rela asal jangan pada ayah lagi.
Sebenarnya ini ujian dari Allah. Aku tahu itu. Tapi bagaimanapun juga aku seseorang yang perasa dan pemikir. Bagaimanapun aku anaknya.
Aku selalu ingin tahu apa yang dipikirkan ayah setiap harinya sampai penyakit menyebalkan itu masih terus menggerogotinya. Mungkinkah jika aku tahu apa yang dipikirkannya aku akan bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya? Mungkinkah aku akan punya penyakit yang sama?
Kau tahu? terkadang emosi ayah yang meninggi membuatku nyaris tidak mengenalnya sebagai ayahku. Ayah selalu banyak bicara dan ditambah dengan emosi yang menggebu-gebu, membuatku takut untuk bertatap muka dengannya.
Tapi sungguh. Jika diberi kesempatan untuk menangis aku akan dengan senang hati menerimanya. Aku ingin menangis meraung-raung untuk menumpahkan segala ganjalan hati dan menolak bantahan akal sehatku. Mungkin saat ini hanya Allah yang bisa mendengar jeritan hatiku, keluhan hatiku. Setengah jiwaku merasa lelah tapi aku juga harus melihat sisi lain. Ibu. Bukti aku masih bertahan karena ibu. Aku tidak mungkin membiarkannya menghadapi ini semua sendirian. Aku yakin ibu selalu membendung tangisnya didepanku, tapi tahukah bu? Ibu tidak perlu melakukan itu. Menangislah sebisamu karena aku yakin ibu memang butuh menangis. Ibu wanita terkuat didunia ini. Bahkan ribuan laki-lakipun bisa ibu kalahkan. Wanita memang makhluk terkuat yang Allah ciptakan bahkan jika laki-laki merasakan apa yang wanita rasakan mereka pasti sudah mengakhiri hidupnya saat itu juga. Dan seorang ibu, wanita dengan segala kelembutan hatiya yang Allah titipkan untuk dijaga perasaannya. Bahkan seorang ibu bisa menjadi wanita pemberani untuk melindungi segala hal yang memang harus dilindunginya. Seorang ibu akan mengeluarkan semua keberaniannya bahkan melebihi keberanian seorang ayah jika memang itu dibutuhkan.
Akankah suatu saat nanti—aku tidak tahu kapan—ayah bisa sembuh dan menjalani hari-harinya dengan bahagia bersama kami? Aku sangat mengharapkan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar